Mata Kering? Jika Terasa Mengganggu Aktivitas, Gunakan Insto Dry Eyes!

Durasi penggunaan gawai dalam satu hari harus Anda perhatikan baik-baik. Kegiatan mengoperasikan gawai, baik untuk berkirim pesan, membuka surat elektronik, menjelajah di media sosial, bekerja, dan membaca berita daring adalah kebiasaan masyarakat sekarang ini. Acapkali menggunakan perangkat gawai membuat kita lupa waktu. Padahal perkara ini berdampak pada kesehatan, salah satunya gejala mata kering.

Penggunaan gawai adalah salah satu penyebab paling sering ditemui seiring meningkatnya gejala sindrom mata mengering yang menyebabkan mata lelah. Indonesia berada di urutan keempat soal lama menggunakan perangkat gawai, khususnya ponsel pintar. Tidak tanggung-tanggung, waktu selama 13 jam per hari dihabiskan di hadapan layar ponsel pintar. Tentu saja perilaku ini berdampak buruk pada mata sehingga membuat mata sepet, pegal, bahkan kemerahan.]

Sebenarnya gejala mata mengering ini sering dialami oleh para orang tua dengan usia di atas 50 tahun. Perlahan-lahan usia tidak menjadi patokan karena anak-anak berusia 10 tahun pun rentan terkena sindrom ini. Perkembangan zaman memang paradox: positif dan negatif. Namun, bukan berarti penggunaan gawai menjadi kambing hitam atas gejala mata mengering. Masih ada penyebab lain, seperti faktor lingkungan: debu dan asap, riwayat penyakit diabetes maupun operasi, hingga penggunaan obat. Namun, faktor utama mata mengering pada anak-anak adalah penggunaan perangkat gawai tanpa kontrol.

Begitu juga dengan faktor penyebab mata mengering yang mengakibatkan penderita merasakan mata perih, seperti konsumsi obat dekongestan, antihistamin, pil KB, dan antidepresan. Meski yang paling umum terjadi pada orang tua (lansia) di atas 50 tahun karena mereka mengalami penurunan produksi air mata.  Penyebab lain, seperti penyakit kulit inflamasi atau rosacea dan penyakit kelopak mata pun berkontribusi terhadap gejala mata mengering.

Mungkin belum disadari sepenuhnya jika perempuan lebih rentan mengalami sindrom mata mengering, terutama ketika masa kehamilan dan menopause. Pada masa tersebut perempuan mengalami perubahan hormonal yang berdampak pada produksi air mata.

Dan, faktor lingkungan ikut andil menyebabkan mata Anda menjadi kering. Lingkungan dengan tingkat polusi parah, seperti di kota-kota besar lebih berisiko. Begitu juga di desa, meski tingkat polusi minim, tapi jika suhu terlalu panas ataupun dingin bisa memicu mata mengering. Tentu diperlukan kesadaran sejak dini bahwa sindrom ini perlu ditindaklanjuti, meski risikonya tidak terlalu besar. Walaupun tingkat risikonya sedang, bukan berarti Anda bisa menyepelekannya karena bisa mengganggu aktivitas sehari-hari.

Gejala mata mengering terjadi sewaktu kualitas dan kuantitas air mata tidak mampu menjaga permukaan mata mendapat pelumas yang cukup. Ketika mengalami gejala ini, Anda akan merasakan sensasi mata pegel, gatal, dan merasa ada sesuatu yang mengganjal di dalam mata. Hampir semua orang di dunia mengidap gejala ini, baik mudah maupun tua. Tercatat sekitar 60-juta orang mengidap sindrom mata mengering. Prevalensi gejala ini di Indonesia pada tahun 2017 lalu mencapai angka 30,6%.

Sebenarnya Anda tidak perlu khawatir akan gejala sindrom ini karena cukup mudah diobati. Anda bisa menemukan pencegahan dengan metode sederhana. Ketika menghadap layar gawai, setidaknya selama 30 menit sekali mata harus diistirahatkan. Mengistirahatkan mata bukan berarti memejamkan mata dengan tidur. Anda bisa mengompres mata menggunakan air hangat ataupun memandang objek yang jauh selama satu menit. Kalaupun dibutuhkan, Anda bisa menggunakan Insto Dry Eyes.

Metode sederhana pun bisa diaplikasikan ketika Anda berada di luar ruangan. Agar mata tidak terpapar UV, debu, maupun kibasan angin, kenakan kacamata hitam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *